Banjir Rendam Padang, Pakar Ingatkan Pentingnya Ketahanan Infrastruktur Pengendali Air

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Padang, Sumatera Barat, pada 10 Oktober 2026 kembali menyoroti pentingnya ketahanan infrastruktur pengendali banjir. Pakar kebencanaan mengingatkan bahwa kerusakan tanggul dan infrastruktur sungai dapat memperbesar dampak bencana ketika hujan deras meningkatkan debit air.

Pakar gempa dan tsunami sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menilai bahwa penanganan banjir tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan tanggul. Upaya pengurangan risiko juga membutuhkan penataan ruang yang tepat, sistem peringatan dini yang efektif, serta kesiapsiagaan masyarakat.

Menurutnya, kerusakan infrastruktur pengendali banjir dapat menjadi faktor yang memperparah dampak bencana. Ketika aliran sungai meningkat akibat hujan dengan intensitas tinggi, kondisi tanggul dan kapasitas sungai menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa besar dampak yang dirasakan masyarakat.

Kerusakan Infrastruktur Perlu Dievaluasi

Banjir yang terjadi di Padang menunjukkan perlunya pemeriksaan menyeluruh terhadap infrastruktur pengendali air dan kondisi lingkungan di sekitar aliran sungai.

Kerusakan tanggul, jalan, serta rumah warga menjadi perhatian, terutama di kawasan yang terdampak aliran air deras. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui apakah kapasitas sungai masih memadai dalam menampung peningkatan debit air saat hujan lebat.

Daryono juga menyoroti pentingnya evaluasi daerah aliran sungai (DAS) dan tingkat kerentanan kawasan permukiman. Pemeriksaan tersebut dapat membantu mengidentifikasi titik rawan serta menentukan langkah perbaikan yang perlu diprioritaskan.

Selain memperbaiki infrastruktur yang rusak, pemerintah perlu memastikan bahwa sistem pengendalian banjir mampu menghadapi peningkatan debit air dan mengurangi potensi luapan ke permukiman.

Mitigasi Banjir Tidak Cukup Mengandalkan Tanggul

Pembangunan dan perbaikan tanggul merupakan bagian penting dari upaya mengurangi risiko banjir. Namun, perlindungan masyarakat perlu dilakukan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh.

Pengelolaan kawasan hulu, pemeliharaan alur sungai, penataan permukiman, dan penguatan sistem peringatan dini menjadi sejumlah langkah yang perlu diperhatikan.

Kondisi di kawasan hulu turut memengaruhi aliran air menuju wilayah hilir. Karena itu, mitigasi perlu dilakukan secara terintegrasi dari bagian hulu hingga kawasan permukiman yang berpotensi terdampak.

Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir perlu mendapatkan informasi peringatan dini yang memadai. Informasi tersebut dapat membantu warga mempersiapkan diri dan melakukan evakuasi lebih cepat ketika situasi membahayakan.

Evaluasi Pascabanjir Jadi Langkah Penting

Evaluasi setelah banjir diperlukan untuk memetakan kerusakan, mengidentifikasi penyebab meluasnya genangan, serta menentukan prioritas penanganan berikutnya.

Pemeriksaan dapat mencakup kondisi tanggul, kapasitas aliran sungai, sedimentasi, hingga keamanan permukiman di sekitar daerah aliran sungai. Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menyusun program mitigasi jangka panjang.

Banjir mungkin tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, terutama ketika hujan deras meningkatkan debit air secara signifikan. Namun, risiko korban jiwa dan kerugian material dapat ditekan melalui infrastruktur yang lebih tangguh, peringatan dini yang berjalan baik, serta kesiapan masyarakat.

Peristiwa banjir di Padang menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak cukup berhenti pada evakuasi dan perbaikan kerusakan. Upaya pencegahan dan pengurangan risiko perlu dilakukan secara berkelanjutan agar dampak banjir berikutnya dapat diminimalkan.

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama